Surabaya | RuangRana.com – UPT Taman Budaya Jawa Timur tampilkan pertunjukan Ludruk di Gedung Kesenian Cak Durasim Taman Budaya Jawa Timur, Jumat 8 September 2023 19:00 WIB. Grup ludruk Angling Dharma dari Kabupaten Bojonegoro dipimpin oleh Kadarminto H.S berkesempatan untuk tampil kali ini. Lakon yang akan dibawakan berjudul “Pendekar Lor Kali (Sarip Tambak Oso)”. Penulis-sutradara Suyanto, S.Pd populer dengan sebutan “Pak Dhe Suyanto Munyuk”.

Pementasan digelar Pertunjukan dibuka oleh Edy Supaji, SH., M.M., Sekretaris Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Jawa Timur. Dalam sambutannya, Edy Supaji berpesan kepada masyarakat untuk selalu menjaga budaya nasional, khususnya budaya Jawa Timur, karena budaya yang kita miliki adalah identitas bangsa. Penontonnya tidak hanya orang dewasa saja, tapi banyak juga anak muda yang turut mengapresiasinya. Pertunjukan dihadiri sedikitnya beberapa ratus pengunjung. Yang membuat acara ini istimewa adalah hadirnya tamu-tamu terhormat antara lain Konjen Australia, Anthony Clark, dan beberapa tamu istimewa lainnya.

Pendekar Lor Kali berkisah tentang tokoh Sarip Tambak Oso, seorang pejuang kolonial Belanda yang mendapat perlawanan sejak zaman politik dagang VOC hingga upaya pemerintah menguasai wilayah negara, baik secara individu maupun terorganisir. Pejuang legendaris “Lor Kali Porong” adalah contoh pembangkang perpajakan pada pemerintahan Belanda. Ia berperang seperti Robin Hood, mencuri dan merampas harta milik penjajah, tuan tanah, pengikut Belanda, rentenir yang mencekik leher orang-orang kecil, lalu membagikannya kepada masyarakat miskin yang tertindas. Dia dan keluarganya tidak punya apa-apa untuk dinikmati sama sekali. Perjalanan hidup “Pendekar Lor Kali” penuh misteri.

Penyajian dan jalan cerita cerita ini sesuai dengan kreativitas sutradara. Banyak cerita yang diputar di bioskop tentang karakter Salip hanya dibungkus dalam cerita, bukan figuratif. Keterampilan pembuatan cerita kurang kuat, dan sutradara ragu-ragu karena takut melanggar standar naskah. Oleh karena itu, penulis-sutradara ingin menyajikan pertunjukan dengan cerita yang berbeda, namun tidak berlebihan. Judul “Pendekar Lor Kali” sekaligus dipilih untuk mengajak masyarakat berpikir secara geografis.Sungai Polong yang melintasi wilayah Sidoarjo adalah dari barat sebagai hulu dan mengalir ke arah Timur menuju laut, sehingga jika ada dua sosok pendekar maka itu adalah seharusnya Lor Kali dan Kidul Porong. Oleh karena itu, tokoh Sarip Tambakoso dikenal sebagai pendekar lor kali dan Paidi dikenal sebagai pendekar Kidul kali.

Sarip kecil dalam gendongan

Penulis ingin membedahnya dengan sanggit cerita, dengan harapan agar penyajian kali ini lebih menarik dan sangat berbeda dengan sanggit cerita yang biasa disajikan para pendahulunya. Penulis juga tidak ingin menyajikan tayangan Pendekar Lor Kali secara monoton. Kenangan masa kecil Salip yang biasa disampaikan melalui dialog episodik, kali ini disajikan dalam bentuk adegan visual.

Dalam konsep penciptaan cerita, penulis skenario dan sutradara berharap dapat mengungkapkan dan menyampaikan kesan cerita melalui tontonan, tuntunan, tatanan, serta titian kreatifitas. Konten edukasinya sederhana dan indah untuk disimak melalui jalan cerita yang disajikan. Flashback atau kilas balik akan dihadirkan melalui konsep yang benar-benar realistis, bahkan termasuk dua masa kilas balik. Dua masa yaitu; saat Sarip masih kecil, saat usianya sekitar 7 tahun, dan saat Sarip masih bayi dalam gendongannya. Ceritanya adalah bagaimana Salip kemudian menemukan dan mengetahui siapa dirinya. Ia telah hidup di masa-masa sulit masa penjajahan sejak ia masih kecil, dan tertindas oleh keserakahan pamannya, Ridwan. Gejolak mental Salip saat dewasa ternyata disebabkan oleh masalah kecil. Jiwa mudanya akhirnya bangkit melawan keserakahan, kezaliman dan kolonialisme, ingin membela dan membantu rakyat kecil yang berada dalam kemiskinan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *