Pameran fotografi Au Loim Fain karya Romi Perbawa resmi dibuka di Galeri Dewan Kesenian Surabaya (DKS), Kompleks Balai Pemuda. Alih-alih sekadar menghadirkan arsip visual, pameran ini menempatkan fotografi sebagai medium kesaksian—sekaligus gugatan—atas realitas panjang migrasi tenaga kerja Indonesia yang sarat ketimpangan dan kekerasan struktural.

Pembukaan pameran berlangsung meriah tapi tetap sederhana. Prosesi potong tumpeng oleh Romi Perbawa yang diserahkan kepada Rasmono Sudarjo, fotografer senior Surabaya, terasa lebih sebagai gestur simbolik: sebuah penyerahan tanggung jawab ingatan dari satu generasi ke generasi lain. Dalam konteks ini, pameran Au Loim Fain tidak sekadar menjadi ruang pamer, tetapi ruang perjumpaan antara praktik seni, etika dokumentasi, dan politik representasi.

Sebanyak 22 karya fotografi ditampilkan, seluruhnya merupakan bagian dari proyek jangka panjang yang dikerjakan Romi sepanjang 2012–2019. Program Director pameran, Cak Eed, menyebut karya-karya ini sebagai potongan narasi dari perjalanan panjang Romi menelusuri kehidupan pekerja migran Indonesia—terutama perempuan—yang kerap berada dalam posisi paling rentan. Sebelumnya, foto-foto ini telah hadir di ruang-ruang seni nasional seperti ArtJog 2023 dan Taman Ismail Marzuki pada Juli 2025, menandai pentingnya proyek ini dalam peta fotografi dokumenter kontemporer Indonesia.

Judul Au Loim Fain berangkat dari kata-kata terakhir Adelina Sau, pekerja migran asal Nusa Tenggara Timur yang meninggal dunia akibat penganiayaan majikannya di Malaysia. Dalam bahasa ibunya, frasa itu berarti “aku ingin pulang”. Namun dalam konteks pameran ini, kalimat tersebut melampaui makna personal; ia menjelma menjadi simbol kegagalan sistemik—tentang migrasi yang dijanjikan sebagai jalan keluar ekonomi, tetapi kerap berujung pada eksploitasi dan penghilangan martabat.

Romi Perbawa tidak memosisikan dirinya sebagai pengamat yang berjarak. Fotografi dalam Au Loim Fain menolak sensasionalisme, memilih pendekatan yang tenang, bahkan nyaris sunyi. Justru dalam kesunyian visual itulah, luka-luka sosial berbicara. Kamera menjadi alat untuk mendekat, bukan menghakimi; merekam tanpa menggurui, menghadirkan empati tanpa romantisasi penderitaan.

Pameran Au Loim Fain berlangsung hingga 22 Desember 2025, dibuka setiap hari pukul 10.00–21.00 WIB. Rangkaian diskusi, bedah buku, dan pertunjukan seni yang menyertainya memperluas pembacaan karya, sekaligus membuka ruang dialog lintas disiplin. Dalam konteks seni rupa kontemporer, pameran ini menegaskan kembali bahwa fotografi dokumenter tidak hanya berfungsi sebagai catatan sejarah, tetapi juga sebagai praktik kritis yang menuntut tanggung jawab etis—baik dari seniman, institusi, maupun publik yang menyaksikannya. (AMR)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *